Peresmian Markaz An-Nur Tasikmalaya

11 Januari 2016, Markaz An-Nur di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat diresmikan Selengkapnya »

Markaz Pembinaan Yatim

Selengkapnya »

Youth Leadership Camp

Selengkapnya »

Student Development Program

Selengkapnya »

Tebar Qurban

Selengkapnya »

Berbagi Buka Puasa Ramadhan

Selengkapnya »

 

Membangun Ukhuwah (Bagian-1)

ukhuwahDalam nasehatnya Rasulullah memberikan sebuah perumpamaan yang cukup dalam untuk kita hayati, kalimat yang sederhana tapi mengena; “Orang-orang yang beriman itu laksana jasad yang satu”. Tidaklah mungkin tangan tiba-tiba memukul kepalanya sendiri, atau kaki kanan menendang kaki kirinya, itulah ukhuwah. Sebuah harmoni anggota badan yang bekerja secara dinamis, begitu pulalah seharusnya ukhuwah. Berjalan di atas duri pun, mulut akan berucap, tangan yang akan mengelus-elus kaki.

Melihat realita di era sekarang, zaman dimana kiamat sudah di depan mata dengan seabrek tanda-tandanya, sedikit dari kita menerapkan aplikasi dari konsep ukhuwah itu sendiri. Karena nyaris semuanya telah dibutakan oleh materialisme, bahkan terhadap ukhuwah itu sendiri. Jika sampai terbersit dalam benak kita “Apa orang ini bermanfaat buat saya?” maka bisa jadi kita sudah terjangkit virus materialisme dan hedonisme.

Rasulullah SAW mengajarkan kita dalam nasihatnya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain”. Nasihat yang  akan berlaku di sepanjang zaman, demi berdiri tegak dalam menghadapi terpaan fitnah dunia.

Sahabat atau teman sudah seharusnya menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan walaupun ia jatuh di jalan atau di comberan sekalipun, sisi yang satu tak akan meninggalkan sisi yang satunya dalam keadaan apapun, jatuh dan bangun bersama. Betapa indahnya ukhuwah, kita simak kisah antara sahabat Rasulullah SAW; Sa’ad bin ar-Rabi’ dengan Abdurrahman bin Auf. Kisah yang telah dikenal seantero dunia, namun tidak mudah mengaplikasikannya.

Telah sampai berita bahwa Abdurrahman bin Auf menceritakan, “Ketika kami sampai di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan aku dengan Sa’ad bin ar Rabi’, maka Sa’ad bin ar Rabi’ mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu separuh hartaku, dan silakan kau pilih mana di antara dua istriku yang kau inginkan, maka akan aku lepaskan dia untuk engkau nikahi. Perawi mengatakan, bahwa Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu, cukup tunjukkan kepadaku dimana pasar.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Pada kisah di atas bisa kita cermati bahwasanya itsar adalah puncak dari ukhuwah, dan bisa kita fahami pula bahwa seorang yang bermental kaya sekelas Abdurrahman bin Auf tidak serta merta menerima semua itu dan hanya menanyakan “Dimana pasarnya akhy?”. Seandainya kita ditawarkan hal seperti itu, mungkin sudah segera kita ambil dan bisa jadi kita manfaatkan orang seperti itu. Akan tetapi begitulah sahabat Nabi Muhammad SAW, tidak berwatak seperti kita, yang sangat mudah tersilap oleh silaunya kenikmatan dunia.

Ada ungkapan, “Betapa mudahnya mencari 1000 musuh, akan tetapi sungguh sulit mencari 1 orang teman”. Mungkin ungkapan yang sangat tepat, akan tetapi terlihat sedikit pesimis, coba kita balik “Mudahnya mencari 1000 teman, akan tetapi susahnya mencari 1 orang musuh”. Bagaimana bisa? InsyaAllah bisa, dengan kiat-kiat berikut ini;

[1] Terapkan Rukun Ukhuwah

Apa itu rukun ukhuwah? Ukhuwah (Persaudaraan antar sesama muslim atas dasar aqidah / nilai-nilai islam) mempunyai 7 rukun yang harus dibangun. Ketujuh rukun itu adalah Ta’aruf (saling mengenal), Ta’aluf (kesatuan hati), Tafahum (saling memahami), Tanashuh (saling menasehati), Ta’awun (saling menolong), Takaful (senasib dan sepenanggungan), Itsar (mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi).

[2] Terapkan 5S

Menerapkan 5S adalah salah satu jurus dalam membangun kehangatan bahkan di dalam rumah salju sekalipun. Salam, Senyum, Sapa, Sopan, dan Santun. Kalau sudah gunakan 5S ini, jangankan memukul, sekedar marah saja mungkin tidak akan terlintas di benak.

[3] Akhlaqul Karimah

Sudah seharusnya poin ini menjadi karakteristik utama yang harus dimiliki setiap muslim. “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq” begitulah ungkap Rasulullah SAW yang akhlaqnya adalah Al Qur’an.

[4] Silaturahim

Silaturahim membuat kita semakin mengenal dan memahami karakter seseorang. Silaturahim juga sebab bertambahnya rizqi dan panjangnya usia. Begitulah yang dinasehatkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Fenomena saat ini dimana media komunikasi begitu mudah dan cepat, dalam satu detik saja sebuah informasi dapat berpindah dari sabang ke merauke. Hal ini tentu banyak sisi positifnya, namun di sisi lain fenomena ini membuat ‘kekakuan dan kebisuan’. Orang-orang berkumpul di satu tempat, akan tetapi mata dan fokusnya tertuju pada gadget masing-masing. Alangkah indahnya bila gadget kita justru menjadi sarana untuk menjadikan saudara yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat menjadi semakin dekat dengan kita, bukan sebaliknya. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *