Peresmian Markaz An-Nur Tasikmalaya

11 Januari 2016, Markaz An-Nur di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat diresmikan Selengkapnya »

Markaz Pembinaan Yatim

Selengkapnya »

Youth Leadership Camp

Selengkapnya »

Student Development Program

Selengkapnya »

Tebar Qurban

Selengkapnya »

Berbagi Buka Puasa Ramadhan

Selengkapnya »

 

Sabar Menerima Nasihat

al__ashr_by_baraja19-d6wp7jcOleh : M. As’ad Mahmud, Lc*

“Demi waktu. Sesungguhnya semua manusia itu merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling berwasiat dengan kebenaran, dan saling berwasiat dengan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1–3)

Surat Al-`Ashr sebagaimana tercantum di atas, adalah surat yang cukup populer. Lafadznya pendek dan sederhana tetapi maknanya luas dan dalam. Imam Syafi`i pernah berkomentar bahwa surat Al-‘Ashr ini saja, sudah cukup menjadi pedoman dan nasihat bagi manusia.

Surat Al-‘Ashr mengandung prinsip-prinsip utama bagi siapa saja yang menginginkan kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat. Prinsip-prinsip tersebut adalah iman, amal shalih, saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran.

Di dalam Al-Quran, antara iman dan amal shalih hampir selalu disebut berurutan, karena memang antara keduanya tidak bisa dipisahkan. Iman adalah keyakinan di dalam hati, sedangkan amal saleh adalah perbuatan yang menjadi bukti dari keyakinan tersebut.

Banyak sekali hadits Rasulullah SAW yang menunjukkan kuatnya hubungan antara iman dan amal, misalnya ”…barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tetangganya”. Atau dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah beriman seseorang itu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.”

Selanjutnya adalah saling menasihati. Salah satu karakter utama agama Islam adalah saling menasihati. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa agama Islam adalah nasihat itu sendiri.

Di dalam surat Al-`Ashr di atas, kata saling menasihati disebutkan dalam dua bagian. Bagian pertama adalah saling menasihati dengan kebenaran. Maksudnya proses saling menasihati ini haruslah bertujuan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT dan menjauhi larangannya. Karena tujuannya yang mulia itu, Islam mengajarkan agar nasihat itu diberikan dengan bijak, tutur kata yang baik dan kalaupun harus melalui diskusi atau perdebatan, hendaklah dilakukan dengan bahasa yang santun.

Bagian kedua adalah saling menasihati dengan penuh kesabaran. Agar proses saling menasihati itu berjalan dengan baik, kesabaran harus menjadi modal utama bagi kedua belah pihak, yang menasihati maupun yang dinasihati. Bagi yang memberikan nasihat, kesabaran sangat diperlukan sebab ada sebagian orang yang sulit menerima nasihat. Seperti kisah Nabi Nuh AS yang menghabiskan waktu 950 tahun untuk menasihati kaumnya, itupun belum memperoleh pengikut yang banyak.

Sedangkan bagi yang menerima nasihat, kesabaran sangat diperlukan sebab menerima nasihat berarti siap melihat aib atau kekurangan diri sendiri. Oleh karena itu, ketika kita menerima kritik ataupun nasihat, hendaknya kita bersyukur, bukan justru menyalahkan si pemberi nasihat. Sebab dengan cara itu kita bisa mengetahui kekurangan diri sendiri, dan selanjutnya berusaha untuk memperbaikinya. Itulah sebabnya, Umar bin Khatthab ra. pernah berujar, ”Aku akan berterima kasih kepada siapa saja yang menghadiahkan (mengingatkan) aib dan kekuranganku kepadaku”.

Disadur dari dakwatuna.com

*) Penulis merupakan salah satu Dai WAMY Indonesia di Tengaran, Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *